Monday, August 16, 2010

What The?

Jadi inget deh saya sama fanfict goblok yang saya bikin kira kira 5 bulan yang lalu atau sekitar bulan Maret 2010. Itu adalah cerita tergeje dan teraneh yang pernah saya bikin. Ceritanya panjang naujubillah, kalau di-print itu nyampe lah 13 lembar mah. Dibuat secara susah payah dan hasilnya? Dapet nominasi fanfict terbaik di blog Jonas Indonesia meskipun ga menang.

Buat yang mau baca, ada neh deseneh

Pengumuman nominasi Kids’ Choice Awards 2010. Aku dan Nick kebagian nominasi terpisah sebagai aktor terbaik—dan itu artinya kami bersaing, menyedihkan sekali, bersaing dengan adik sendiri. Tapi Kevin dia nggak kebagian nominasi individual. Okay, ini buruk. Panitia mendiskriminasikan Kevin. Dia itu Jonas Brothers juga, hello.
Bersaing dengan adik sendiri mungkin nggak masalah. Tapi kalau cuma bersaing dengan seorang adik dengan seorang kakak yang ‘menganggur’ karena nggak dapat nominasi, itu merupakan masalah.
Jika kami mau protes, harga diri kami mau di kemanakan nantinya. Untungnya, Kevin adalah orang yang sabar, sehingga dia nggak menuntut dijadikan nominasi aktor terbaik juga, dan bersaing bersama aku dan Nick. Tapi aku sebagai ‘si tengah’ merasa bersalah. Aku jadi nominasi, Nick jadi nominasi, sedangkan Kevin tidak.
Aku sempat membaca di Twitter, bahwa fans kami pernah menjadikan #KevinForKCA10 menjadi Trending Topic selama beberapa puluh menit, itu sempat membuat Kevin terharu, tapi tetap saja tidak merubah pikiran panitia KCA 2010.
Aku berharap, siapapun yang terbaik akan memenangkan persaingan aktor terbaik ini. Amin.
***
Aku bisa saja terlihat sabar sekarang. Tapi tidak menjadi nominasi ‘Aktor Terbaik’ di Kids’ Choice Awards 2010 saat adik-adikku menjadi nominasi itu merupakan sebuah diskriminasi, panitia KCA 2010 seolah menganggap Jonas Brothers itu hanya terdiri dari Joe dan Nick—tanpa Kevin.
Danielle bilang, mungkin jika aku turut jadi nominasi juga, panitia akan merasa semakin membeda-bedakan Jonas Brothers, karena semuanya bersaing untuk menjadi aktor terbaik. Aku mempertimbangkan ucapan Dani, semoga saja memang itu alasannya.
Tapi aku tetap tidak terima. Kalau aku nggak jadi nominasi, Joe dan Nick juga seharusnya enggak dong.
Entah kenapa sejak Nick mendeklarasikan band side projectnya, publik kini menganggap Jonas Brothers itu sudah nggak ada, yang ada sekarang hanya Kevin Jonas, Joe Jonas, dan Nick Jonas serta bandnya, Nick Jonas & the Administration. Bukannya aku menyalahkan Nick karena membuat band side project baru, tapi entah kenapa aku menganggap itulah penyebab perpecahan para fans sehingga kini fans Jonas beralih ke lain artis.
***
Entah kenapa aku merasa banyak fans yang menyalahkan kehadiran band side project baruku sebagai penyebab Kevin tidak terpilih menjadi nominasi aktor terbaik di Kids’ Choice Awards 2010 nanti. Well, ini memang mungkin salahku karena ngotot minta diizinkan buat side project lain selain Jonas Brothers, tapi aku bosan dengan Jonas. Ups, mungkin aku baru saja mengucapkan sesuatu yang tidak seharusnya aku katakan.
Oke, aku mau Kevin jadi nominasi KCA 2010 juga. Nggak adil buat dia. Jika aku dan Joe bias jadi nominasi aktor terbaik, kenapa dia enggak? Dunia tidak adil memang.
Dan bukan hanya masalah Kevin nggak masuk nominasi KCA 2010 saja sekarang yang menghadapi keluarga kami. Gosip-gosip bahwa Jonas Brothers sudah nggak eksis dan kehadirannya akan digantikan oleh Justin Bieber membuatku pusing. Jonas Brothers tetap eksis karena kami masih bersaudara. Kami nggak akan pernah bubar. Nggak akan.
***
“Kevin! Kamu kenapa marah-marah terus sih sekarang? Kamu jadi beda,” Dani protes setelah aku marah-marah sendiri dan melampiaskannya ke hp-ku.
“Memangnya kenapa, Sayang?” aku mencoba meredam emosi.
“Apa ini karena Kids’ Choice Awards?” dia bertanya.
“Kalau iya kenapa?” jawabku.
“Sayang,” Dani memegang pundakku. “Itu kan cuma untuk tahun ini. Dan masa kau nggak mau menyisakan tempat untuk aktor lain selain Jonas untuk ikut bersaing sebagai aktor terbaik? Nominasinya kan cuma untuk 4 orang. Masak, orang lain yang selain Jonas yang ikut berpartisipasi menjadi nominasi cuma seorang kalau kau jadi nominasi? Mungkin itulah pertimbangan para panitianya.”
Setelah penjelasan Dani yang panjang lebar itu, aku berpikir sebentar, mencoba mempertimbangkan ucapannya.
“Sudahlah, berhentilah mengeluh, Sayang,” Dani mengelus pundakku.
Aku menatap Dani dalam-dalam, “Tapi, Sayang. Aku nanti hanya jadi penonton di KCA 2010.”
Mungkin kesabaran Dani sudah habis, dia berdiri agak jauh sekarang, “Kau sudah dinasihati tetap saja keras kepala, ya? Kau mau kuapakan?”
Aku menatap Dani lagi, “Sayang…”
Dan sekarang, Dani memegang sapu, “Kalau kau masih mengoceh dan mengoceh tentang Kids’ Choice Awards, kau akan merasakan sapu ini di punggungmu selama seminggu.”
“Dani, please,” aku memohon. “Aku nggak bias melupakan Kids’ Choice Awards sekarang, aku butuh waktu lebih dari seminggu.”
Dani menurunkan sapunya, “Sekali lagi kau bilang kata-kata itu, sapu ini melayang ke punggungmu.”
“Kau masih terus mengancamku untuk melupakan soal KCA, hah?” aku berdiri, lalu memelototinya sekarang.
Dani mengangkat sapunya lagi sekarang, posisi siap menyerang.
“Oke, aku akan pergi menenangkan diri, dan nggak akan pulang dulu sampai otakku benar-benar bersih dari Kids’ Choice Awards,” sambil mengatakan itu, aku membawa koperku yang masih ada isinya—baju untuk tur dan beberapa baju santai—yang belum sempat aku rapikan.
Saat aku berjalan melewati Dani, aku merasakan tatapannya, tatapan menyesal dan kehilangan. Tapi apa boleh buat, daripada nanti aku dipukuli pakai sapu di punggung kalau aku ngomongin KCA terus. Dan sekarang aku berjalan menuju mobilku, aku mau ke bandara, lalu pergi ke suatu tempat yang aku tahu, bias membuatku tenang dan melupakan segalanya tentang Kids’ Choice Awards.
***
“Joe, Kevin pergi,” aku mendengar isak tangisnya Dani di telepon. “Dia bilang dia nggak akan kembali sebelum dapat melupakan Kids’ Choice Awards dengan tenang.”
“Apa?” aku teriak di telepon, mengundang perhatian Frankie yang sedang menonton TV. “Terus sekarang dia pergi ke mana?”
“Aku nggak tahu, Joe. Dia bilang dia mau pergi ke suatu tempat,” Dani menangis.
“Memangnya kenapa dia pergi?” tanyaku.
Dani terdiam sebentar, namun isak tangisnya masih terdengar di telepon. Itu pasti sangat berat buat Dani, Kevin dan Dani baru saja menikah Desember lalu, sehingga umur pernikahan mereka masih sebentar. Dani mengeluarkan suara, “Sebelumnya, aku ancam akan pukul dia pakai sapu kalau dia masih saja terus ngoceh tentang KCA. Soalnya aku bosan dengar gumulan dan keluhannya. Memang aku salah ya?”
Sekarang aku yang diam. Bertengkar, karena KCA, karena Dani nggak cukup sabar menerima omelan Kevin tentang KCA. Sangat sinetron. Sungguh. “Oke, aku akan lacak keberadaan Kevin ya, yang tenang saja, lupakan dulu dia.”
“Lupakan?” Dani teriak. “Umur pernikahan kami baru 3 bulan dan kau suruh aku lupakan Kevin?”
Aku kaget, ternyata aku mengatakan hal yang salah, “Oh, maksudku tadi, lupakan dulu masalahnya. Hahaha.”
Aku kaget juga karena aku masih sempat tertawa setelah dicurhati Dani tentang masalahnya dengan Kevin. Ini padahal merupakan masalah yang cukup berat buat mereka—mengingat umur pernikahan mereka baru 3 bulan. Dan bodohnya lagi, mereka bertengkar karena tiga hal. Satu, Kevin mengomel terus tentang Kids’ Choice Awards. Dua, Dani tak cukup sabar menerima omelan Kevin. Tiga, Kevin marah karena Dani mengancam akan pukul dia pakai sapu. Kalau dilihat-lihat, ketiganya bukan merupakan masalah yang berat, ketiganya masalah sepele. Tapi setelah Kevin kabur begini, ketiganya seolah menjadi masalah yang sangat berat.
Setelah percakapanku dengan Dani di telepon selesai, Frankie yang tadi terkejut mendengarku yang ditelepon Dani segera bertanya, “Ada apa sih?”
“Masalah Kevin dan Dani,” aku menjawab. “Sudahlah, kau bocah nggak perlu tahu.”
Frankie manyun, “Memang apa sih masalahnya? Kok tadi kau sampai teriak gitu bilang ‘apa’-nya?”
Aku memegang pundak Frankie, lalu menunduk, mencoba menyetarakan tinggi dengannya, “Ini masalah orang dewasa. Anak kecil nggak boleh tahu.”
“Memangnya kau sudah dewasa?” tanya Frankie.
“Umurku sudah di atas 16—20, itu artinya aku sudah dewasa, kan?” aku berdiri lagi, dan lalu meninggalkan Frankie yang aku yakin bahwa dia masih penasaran dengan masalahnya Kevin-Dani.
***
Di bandara. Aku yakin bahwa Dani sudah menelepon Joe dan menceritakan semuanya. Tapi apa peduliku? Toh mereka nggak tahu bahwa aku akan pergi ke mana, yang jelas aku mau pergi ke tempat nun jauh di sana. Tempat yang indah, yang jelas di luar Amerika Serikat, dan mereka nggak akan menyangka bahwa aku akan pergi ke tempat yang sekarang mau aku kunjungi itu.
Penerbangannya tinggal 10 menit lagi. Bagus, aku tinggal menunggu selama 10 menit dan… goodbye America dan Kids’ Choice Awards, Kevin Jonas is leaving.
***
Joe menceritakan padaku bahwa Kevin kabur dari rumahnya bersama Danielle. Oke, ini semakin rumit. Karena Kids’ Choice Awards kini masalahnya malah jadi tambah besar. Menurut Joe, dia punya tiga hipotesis mengenai kaburnya Kevin ini. Pertama, bahwa Kevin nggak terima dengan nasibnya yang hanya sebagai penonton di KCA 2010. Kedua, bahwa Danielle sudah nggak cukup sabar menerima omelan Kevin yang terus-menerus membahas KCA. Terakhir, bahwa Kevin tidak terima dirinya diancam Danielle akan dipukuli sapu jika ia terus di rumah dan membicarakan KCA.
Katanya sekarang Kevin berada dalam perjalanan menuju suatu tempat yang Danielle nggak tahu apa karena Kevin nggak menyebutkan nama tempatnya. Tapi aku punya satu dugaan, di mana Kevin berada sekarang. Aku membawa sebagian baju-bajuku ke dalam koper, lalu aku membawanya ke dalam mobil. Saat itulah Frankie memergokiku.
“Mau ke mana?” tanyanya polos.
“Nyusul Kevin,” jawabku dingin, lalu aku berjalan ke garasi, menuju mobil, dan pergi ke bandara juga.
***
“Nick juga?” aku bertanya pada Frankie. “Tahu dari mana dia nyusul Kevin?”
“Dia yang bilang tadi,” jawab Frankie.
Mama yang mendengar ribut-ribut keluar dari dapur, “Ada apa ini, Joe? Frankie?” Mama menatap satu persatu dari kami bergantian. “Kalian nggak bertengkar kan?”
“Enggak,” jawab kami bersamaan.
“Terus? Kenapa ribut?” tanya Mama.
Aku menelan ludah, lalu menceritakan semua yang Dani tadi ceritakan di telepon, plus cerita dari Frankie bahwa Nick kabur juga dan katanya menyusul Kevin. Mama terkejut. “Masa mereka nekat gitu sih?”
“Maka dari itu, Ma,” jawabku. “Aneh banget kan, Ma? Gara-gara Kids’ Choice Awards tuh jadi kaya gini tu aaah.”
Mama kembali ke dapur, sepertinya peduli nggak peduli.
Aku berpikir, mengira-ngira ke mana perginya Kevin dan Nick, dan kenapa Nick bisa tahu ke mana Kevin pergi, padahal kan Kevin nggak bilang ke Nick dia mau pergi ke mana—ke Dani saja dia nggak bilang, ke aku juga. Setelah berpikir cukup keras, sekarang aku tahu Kevin pergi ke mana. Ke suatu tempat yang ia sukai makanannya, yang pernah kami kunjungi waktu kecil. Kevin pasti pergi ke sana
***
Jakarta, ibukota Indonesia, negara favoritku. Kenapa aku pilih Indonesia? Karena suasana negaranya berbeda jauh dengan Amerika, yang mungkin bisa membuatku dengan mudah melupakan semua persoalan tentang Kids’ Choice Awards 2010.
Dari bandara di Jakarta ini, aku nggak tahu mau ke mana, lalu aku pun bertemu dengan seorang gadis muda di kursi tunggu bandara. Gadis itu duduk sendiri, aku pun menghampirinya dan bertanya, “Hotel terdekat di mana?” Aku bertanya dalam bahasa Inggris.
Gadis itu menoleh, dan setelah melihat wajahku, mata hitamnya membesar karena kaget, lalu dia teriak, “KEVIN JONAS!!! AAAAAAA KEVIN JONAS!!!”
Dia meneriakkan namaku, dan tentu saja menarik perhatian semua orang. Semua yang (mungkin) tahu namaku dan tahu aku langsung ikut meneriakkan namaku, kini aku harus mencari tempat untuk bersembunyi, lalu baru aku nanya-nanya tentang hotel terdekat.
***
Pesawatnya cukup cepat juga, aku sampai di Indonesia tepat sehari setelah aku menyatakan pergi ke Frankie. Tapi karena aku nggak tahu jalan manapun di Indonesia, yang kuingat hanya satu: Kevin suka salah satu kota di Indonesia, dan aku lupa apa. Yang kuingan nama tempatnya dari B. Setelah melihat peta Indonesia, ada satu kota yang menarik perhatianku, yang mungkin merupakan tujuan Kevin. Berau, Kalimantan. Aku bertanya pada petugas arah ke Berau ke mana dari bandara di Jakarta itu. Petugas tertawa setelah aku menanyakan hal itu. Well, apa ada yang lucu?
“Berau itu harus naik pesawat lagi, pertama-tama ke Kalimantan Timur dulu, nah baru naik mobil ke Berau, kira-kira dua jam perjalanan dari sini ke Kaltim naik pesawat,” petugas itu menjawab dengan Bahasa Inggris yang cukup lancer untuk seorang asing.
Setelah mengucapkan terima kasih, aku memesan tiket ke Kalimantan Timur untukku, dan menunggu sekitar sejam setelah pembelian tiket, baru aku dapat pesawat untuk berangkat ke Kalimantan Timur.
***
Aku itu gampang lupaan. Aku lupa nama kota favorit Kevin di Indonesia itu apa. Aku membeli peta Indonesia dulu sesampainya di bandara, aku terlihat banget sebagai seorang turis kesasar di sini, lalu aku menemukan dua tempat yang mungkin tujuan Kevin ke sini. Bandung dan Bali. Lalu sambil memikirkan mana yang benar, aku memainkan internet hp dan searching soal Bandung dan juga Bali. Dari internet aku memperoleh informasi bahwa Bali itu kota turisnya Indonesia, sedangkan Bandung itu kota fashion. Fashion. Kata itu seolah menarik perhatianku untuk pergi ke sana. Ke Bandung.
***
Akhirnya aku dapat hotel juga, yang nyaman lagi. Century Park, hotel yang sebetulnya cukup murah tapi tempat dan pelayanannya cukup bagus. Dan tempatnya jauh juga dari Bandara, sekitar 2 jam aku baru sampai di hotel ini. Padahal selama perjalanan dari bandara ke sini aku melihat banyak hotel-hotel lain. Kenapa aku pilih hotel ini ya?
Aku langsung tertidur di hotel ini, padahal jam menunjukkan pukul 5 sore waktu Indonesia Barat. Oke ini artinya, pikiranku masih belum betul speenuhnya.
***
Sekarang sudah sampai Berau, dan aku betul-betul nggak tahu harus ke mana. Di jalan, saat aku jalan sendirian, aku melihat ada seorang cewek yang memelototiku terus. Akhirnya, aku pelototi dia balik, aku menghampirinya.
“Kau benar-benar Nick Jonas?” dia bertanya dalam Bahasa Inggris yang cukup fasih.
“Ya, kenapa?” jawabku.
“Oh,” bibirnya membulat. “Kenapa bisa ada di Berau, dan kenapa nggak sama Joe dan Kevin?”
Pertanyaan yang sulit untuk dijawab, “Panjang ceritanya.”
“Orang tua kalian cerai?” tanya gadis itu.
“Lupakan, aku butuh tempat istirahat sekarang,” jawabku. “Kau tahu tempat peristirahatan terdekat?”
“Tahu dong,” jawab cewek itu ceria. “Kau ikut saja denganku.”
Ternyata cewek itu bawa mobil, baguslah. Dan dia menyuruhku masuk ke dalamnya. Aku duduk di kursi sebelah supir, cewek itu yang jadi supirnya. Sepanjang perjalanan aku mendengarkan suara lagu-lagu Jonas Brothers di mobil cewek itu. Pastilah cewek ini satu dari sekian fans Jonas Brothers setia, yang nggak pindah ke lain artis karena gosip nggak mutu.
***
Oke, Bandung, kota yang katanya kota fashion-nya Indonesia ini, kota yang kalau sekilas terlihat indah dan hijau. Pohon di mana-mana. Okelah, ini bagus sekali kalau kufoto dan lantas kuceritakan ke Demi dan Disney.
Aku masih bingung, saat aku berjalan seperti turis nyasar di sini, ada seorang cewek berkacamata yang menghampiriku dan bertanya dalam Bahasa Inggris, “Kau bingung?”
“Ya, aku bingung,” jawabku. “Aku. Butuh. Istirahat. Segera.”
“Kau Joe Jonas kan?” tanya cewek itu lagi.
“Ya, aku Joe Jonas, kau bisa antar aku ke tempat istirahat terdekat?” tanyaku.
Cewek itu mengangguk, lalu ia memintaku mengikutinya., Cewek itu masuk ke dalam sebuah mobil dan menyuruhku ikut masuk ke dalamnya.
Di dalam mobil itu, ada cewek itu dan ayahnya. Si cewek itu dan ayahnya mengobrol dalam bahasa yang nggak aku ngerti—mungkin ini yang namanya Bahasa Indonesia. Mungkin cewek ini penggemar setia Jonas Brothers, karena sepanjang perjalanan aku mendengarkan CD Jonas Brothers terus.
***
Cewek yang mengantarku ke tempat istirahat—yang ternyata adalah rumahnya itu—bernama Astria, umurnya 15 tahun dan kelas 1 SMA. Kami berkenalan sesampainya di rumah—atau tempat peristirahatan—nya Astria, dia mengajakku ngobrol. Adiknya yang bernama Chintya juga ternyata penggemar berat Jonas Brothers. Sekarang aku seperti homestay di rumah penduduk local, aku serasa menjadi siswa pertukaran pelajar dari Amerika ke Indonesia.
Astria bilang bahwa aku celebrity crushnya. Well, aku tersanjung sekali. Dan dia sangat senang bisa menemukanku nyasar di Berau.
“Kenapa kau bisa kesasar, Nick?” tanyanya dalam Bahasa Inggris yang cukup lancar.
“Aku mencari Kevin,” jawabku. “Dia kabur ke Indonesia, tapi aku lupa kota favoritnya di Indonesia, yang kutahu inisial kota-nya B.”
“KEVIN NYASAR DI INDONESIA JUGA?” tanyanya.
“Ya, dia kabur setelah kasus Kids’ Choice Awards itu,” jawabku.
Astria terlihat sangat kaget, dia mengoprek hp-nya dan mengetik sesuatu—aku nggak tahu itu apa.
***
“Hey, Joe,” cewek yang akhirnya ku tahu bernama Zessa itu menyapaku.
“Ya?” aku membalas menyapanya.
“Kenapa kau bisa nyasar ke sini?” Zessa bertanya tapi matanya mengetik sesuatu di hpnya, aku curiga dia mengirim SMS ke teman-temannya dan bilang ada aku di rumahnya.
“Aku…” aku berpikir dulu, menciptakan efek dramatis. “Aku nyusul Kevin, dan Nick.”
“Kevin dan Nick?” tanyanya. “Jadi mereka juga nyasar ke sini?” sekarang dia memperhatikan aku, nggak ke hpnya lagi.
“Ya,” jawabku dingin. “Pertama Kevin duluan yang ke sini, lalu Nick nyusul Kevin. Berikutnya kau pasti mau nanya kenapa Kevin bisa ke sini, yak an?”
“Ya, itu pertanyaanku berikutnya,” dia nyengir. “Memang kau mau jawab?”
“Tentu saja, aku kan baik,” aku setengah tertawa saat aku mengatakan hal itu. “Well, kau tahu bahawa Kevin nggak masuk nominasi Kids’ Choice Awards 2010?”
Gadis itu mengangguk, “Tentu saja aku tahu. Itu sempat jadi Trending Topic di Twitter. Dan aku ikut nyumbang beberapa tweets,” dia nyengir padaku. “Terus apa hubungannya dengan kepergiannya ke Indonesia? Danielle ikut?”
Aku menggeleng kepala, “Nggak. Justru karena Dani, Kevin jadi pergi.”
“Ohya? Dani ngapain sampai Kevin kabur gitu?” tanyanya begitu serius.
“Dani mengancam bakal pukul Kevin pakai sapu kalau Kevin terus bersedih dan ngomel terus di rumah tentang kekecewaannya pada panitia KCA. Begitulah,” jawabku. “Kevin terlihat sabar padahal—kepadaku atau Nick.”
Zessa melihatku dengan serius, “Benarkah itu? Atau ini cuma sebuah cerita karanganmu saja?”
“Serius. Ini benar-benar terjadi,” jawabku. “Kau mau bukti? Aku bisa menyambungkanmu dengan Nick di telepon online.” Aku memberikan hpku padanya—yang telah sebelumnya kusambungkan pada Nick via telepon online.
Zessa menerima hpku, lalu meletakkannya di telinganya, dia berbicara pelan—terlihat sekali dia gugup, “Halo?”
Aku diam saja, memperhatikan Zessa berbicara dengan Nick di telepon. Dalam hati aku berpikir, “Mungkin nggak ya, kasus ini jadi heboh banget? Ya pasti lah.”
***
Pagi pertama di Jakarta, setelah melewati malam pertama. Aku mau pergi jalan-jalan, rasanya penat diam terus di kamar. Aku pergi keluar hotel, sekarang aku menghadap ke jalan raya Jakarta yang—oh my god—cukup padat. Ada taksi lewat, aku memanggilnya dan naik ke dalam taksi.
“Mau ke mana, mas?” tanyanya dalam Bahasa Indonesia. Karena aku nggak ngerti, aku menjawab, “I don’t understand, speak English please?
Si supir taksinya diam sebentar, melihat ke arahku lewat kaca spion tengah, lalu bertanya lagi—sekarang dalam Bahasa Inggris, “Where are you going, sir?
“Ke mall terdekat di mana ya?” aku bertanya dalam Bahasa Inggris. “Soalnya aku nggak tahu mall yang bagus di Jakarta.”
“Ke Senayan City mau nggak, sir?” tanyanya.
“Jauh nggak, pak?” tanyaku.
“Lumayan kalau dari sini. Jadi, mau?” tanyanya, seolah promosi.
Aku berpikir sebentar, “Boleh deh, antar saya ke sana ya, pak.”
Si supir taksi menekan pedal gas, taksi pun maju. Dan saya—sebagai turis nyasar yang nggak tahu apa-apa—duduk di jok penumpang belakang sambil main hp.
***
Sudah semalam aku nginep di rumahnya Astria dan Chintya. Keluarga ini cukup baik, memperlakukanku seperti saudara sendiri—padahal aku turis yang nyasar ke Berau. Anehnya, mereka nggak banyak Tanya soal kepergian Kevin. Astria yang kemarin mengajakku ngobrol saja nggak banyak tanya. Dia cuma bertanya, “Kenapa?” dan sudahlah, nggak memanjang.
Tapi aku curiga, si Astria sering banget ngoprek hpnya tiap liat aku. Aneh banget.
Oh iya, kemarin malam Joe meneleponku via telepon online, tapi yang ngomong cewek. Cewek itu namanya Zessa. Joe ternyata nyusul juga ke sini, dan berdasarkan ceritanya Zessa, dia yang ‘menampung’ Joe di rumahnya.
Sekarang, mamanya Astria mengajakku sarapan pagi, “Nick, ayo kita sarapan.”
“Oke, madam,” aku mencoba untuk mencawab secool dan sesopan mungkin, supaya tidak dianggap sebagai tamu yang nggak punya etika.
Sarapannya roti panggang selai coklat yang enak, aku jadi kangen Mama deh. Di saat aku sarapan, aku jadi mikirin, Joe sama Kevin lagi ngapain ya di belahan Indonesia yang lain? Hmmm…
***
Sarapan. Neneknya Zessa memberiku fried rice yang wuiih, enak banget. Aku harus minta Mama bikinin ini sepulangku ke Amerika nanti.
Keluarga Zessa cukup ramah, tapi ada beberapa orang yang menganggap kedatanganku aneh, mereka adalah tante dan omnya Zessa—yang dia panggil ua atau apalah itu. Well, kedatanganku ke sini memang tiba-tiba dan sangat tidak terencana.
Mungkin Kevin penyebab utama semua ke-kaburan yang terjadi. Oh, mungkin bukan dia penyebabnya, tapi Kids’ Choice Awards. Seandainya panitia KCA mengizinkan Kevin menjadi nominasi di KCA, semua ini nggak akan terjadi.
Sementara aku menikmati nasi goreng buatan neneknya Zessa, aku memikirkan, apa yang terjadi di Berau—tempat Nick, dan tempatnya Kevin sekarang.
***
Aku sampai di Senayan City, dan aku benar-benar terlihat seperti bule nyasar di sini—aku tahu istilah bule karena tiap ada orang yang ngeliat pasti bilang, “Eh, ada bule.”
Aku berjalan-jalan di Senayan City, belum semua toko-nya buka karena masih pagi—memang buka fullnya jam berapa sih?
Aku lihat kanan kiri, belum ada stand yang buka, okelah, aku duduk saja di depan mall—benar-benar terlihat seperti orang hilang—melihat kea rah tempat parkir yang masih sepi. Aku lapar, belum sempat sarapan di hotel tadi. Aku masuk lagi ke dalam area mall, mencari tempat makan yang sudah buka.
***
Zessa terus memainkan hpnya, kadang aku penasaran apa yang dia lakukan dengan hpnya, soalnya dia seolah nggak bisa lepas dari hpnya. Dan sekarang, aku mencoba bertanya, “Kau ngapain?”
“Ngetweet,” jawabnya dingin. “Kau kenapa nggak ngetweet juga? Bukannya punya Twitter juga kan?”
Aku menjawab, “Aku bingung mau ngetweet apa, aku takut apa yang nantinya aku tweet malah jadi kontroversi karena sekarang kenyataannya aku nggak di rumahku.”
“Oh gitu,” jawabnya, sekarang dia melihatku. “Kenapa nggak ngetweet yang biasa-biasa saja?”
“Maksudmu?” tanyaku.
“Ya, kayak Good Morning atau apa lah sejenisnya,” jawabnya.
Aku berpikir sesaat, “Okelah kalau begitu.”
***
Aku meratap di kamar tamu keluarganya Astria. Well, aku benar-benar nggak tahu harus ngapain, jadi aku tidur-tiduran saja di sini. Di saat aku sedang terdiam, Astria masuk membawa gitar.
“Hey, Nick. Apa aku mengganggumu?” tanyanya.
“Tentu saja tidak,” aku bangun saat dia memanggilku.
“Haha, kau mau main akustik bersama?” tanyanya malu-malu. “Kalau kau nggak mau, ya sudah, aku nggak maksa kok.”
“Tentu saja aku mau. Aku betul-betul sedang bosan,” aku mengambil gitar yang lagi dipegang Astria. “Kau mau nyanyi lagu apa?”
Astria menatapku, mukanya merah. Well, aku nggak tahu kata-kataku bisa membuatnya malu. Dia pun menjawab, “Turn Right, boleh?”
Aku tersenyum cool dan mengangguk. Lalu aku memainkan melodi lagu Turn Right, dan kami bernyanyi bersama.
***
Sudah selesai sarapan, aku berkeliling mall lagi dan di koridor, aku bertemu dengan cewek yang meneriakiku di bandara kemarin. Cewek itu menatapku, dingin, namun penuh arti. Cewek itu sedang jalan bersama seorang cewek lagi—mungkin adiknya atau saudaranya atau temanya, ya itulah.
Canggung, aku menyapa cewek itu, “Hei J.”
Cewek itu berbisik ke adiknya sebentar, lalu menyapaku balik dengan Bahasa Inggris yang cepat seolah dia sedang nge-rap, “Hai Kevin, namaku Dea, dan ini adikku, Ancita. Senang bertemu denganmu.”
Aku meresponnya, “Senang bertemu denganmu juga, Dea dan Ancita.”
Sepanjang jalan-jalan di Senayan City, aku ditemani oleh kedua cewek yang nge-fans berat sama band saudaraku ini. Mereka bertanya alasanku ke Indonesia—mereka kira aku mau tur—dan aku menceritakan semuanya, mulai dari masalah Kids’ Choice Awards.
“Wow,” Ancita berdecak kagum. “Ckckck, hebat ya…”
“Kenapa kau pilih Indonesia?” tanya Dea. “Kenapa nggak negara lain aja gitu?”
Aku berdeham sebentar, lalu menjawab pertanyaan Dea, “Karena aku cinta Indonesia. Kau tahu, itu ada di biodataku. Negara favoritku adalah Indonesia.”
Dea dan Ancita membelalak kaget, “OH IYA YA.”
Aku pun memulai topik lain, aku nggak mau ngomongin tentang KCA lagi untuk sekarang, aku ingin melupakan masalah ini biar aku bisa cepet pulang lagi ke Amerika.
***
“Hey, Joe,” Zessa memanggilku.
“Ya, Zes?” tanyaku. “Ada apa?”
“Apa Nick sudah meneleponmu lagi?” tanyanya.
“Belum,” jawabku. “Kau mau bicara dengannya? Biar kutelepon dia sekarang.”
“Nggak, nggak usah,” jawabnya. “Tapi Astria meneleponku tadi, katanya Nick ada bersamanya sekarang, di Berau, dan dia mengajak kita untuk bertemu di Jakarta, bagaimana?”
Aku berpikir sebentar. Bertemu dengan Nick—yang nyasar ke Berau—di Jakarta? “Kenapa harus Jakarta?”
“Karena Kak Dea mengirimku SMS sebelum Astria menelepon, dan Kak Dea bilang Kevin ada di Jakarta, dan sekarang Kak Dea lagi jalan-jalan sama Kevin. Lalu setelah Astria menelepon aku certain tentang Kak Dea, dan kami setuju mau mempertemukanmu dengan Nick dan Kevin,” jawabnya panjang lebar. “Jadi gimana? Mau nggak?”
Aku berpikir sebentar, diam, merenung, memikirkan kemungkinannya jika aku, Nick, dan Kevin bertemu. Lalu aku menjawab Zessa, “TENTU SAJA!!!” Aku terdengar sangat antusias. “Kau baik sekali, dan bilang terima kasih pada temanmu, Astria dan Kak Dea itu yaaaa… Aku berhutang pada kalian bertiga.”
“Oke,” Zessa tersenyum, mengetik sesuatu di hpnya, dan menelepon. Mungkin dia menelepon Astria atau Dea.
***
Jamming selesai sebelum lagu Turn Right selesai. Astria menelepon temannya—yang katanya ‘menampung’ Joe di rumahnya. Aku berpikir, sampai kapan aku menginap di sini.
Setelah Astria selesai menelepon, aku bertanya, “Ada apa memang? Kayaknya itu penting deh.”
Astria menjawab, “Well…” dia terdiam sebentar. “Zessa bilang Kevin ada di Jakarta, dan aku serta Zessa dan juga Kak Dea mau mempertemukanmu dengan Joe dan Kevin.”
Mendengar nama Joe dan Kevin, aku kaget, “Kak Dea siapa? Kapan kalian mau melakukan rencana itu?”
“Kak Dea itu orang yang ‘menemukan’ Kevin di Jakarta,” jawab Astria. “Jadi gimana? Mau ketemuan nggak nih?”
Aku menjawab dengan antusias, “Mau. Tentu saja aku mau.”
Di saat aku menjawa, teleponnya Astria bordering, “Oh tunggu sebentar,” katanya. “Wah, Zessa menelepon. Tunggu ya, Nick.”
Temannya menelepon. Bagus, sebentar lagi aku akan dipertemukan dengan saudara-saudaraku yang nyasar juga. Makasih Tuhan.
***
“Kevin,” Dea memanggilku.
“Ya?” tanyaku.
“Aku tadi ngesms temen, dan aku cerita kalau aku nemu kamu di Jakarta, dia bilang, dia juga nemu Joe di Bandung,” jawabnya.
Joe? Di Bandung? “Apa? Jadi Joe nyusul ke sini juga? Ke Bandung gitu?”
Dea menjawab, “Ya, katanya temennya dia juga nemu Nick di Berau.”
Ini semakin aneh dan absurd, “NICK DI BERAU?”
Dea menjawab lagi, “Ya, jadi intinya kalian semua—Jonas Brothers—ada di sini, di Indonesia, tapi di tiga tempat berbeda yang jaraknya cukup jauh.”
Aku menghela napas sebentar.
“Kak,” panggil Ancita ke Dea. “Apa kita mau mempertemukan Kevin dengan Joe dan Nick?”
Aku menoleh, “Kalian mau mempertemukan aku dengan mereka?”
Dea dan Ancita mengangguk bersamaan. Ya Tuhan. Joe dan Nick mencariku ke Indonesia—dan mereka nyasar di Indonesia. Betapa besar rasa saying mereka terhadapku yang tertua ini, Tuhan. Terima kasih, telah memberiku adik yang sangat baik dan sayang padaku, ya Tuhan.
Dea menerima telepon, dia mengobrol dengan seseorang dalam Bahasa Indonesia. Mungkin, dia sedang merencanakan sesuatu tentang pertemuanku dengan adik-adikku nanti.
***
Astria memberitahuku bahwa dia, Zessa, dan Dea sudah siap mempertemukan aku dan saudara-saudaraku. Katanya kami bisa bertemu di Soekarno-Hatta International Airport, Jakarta. Dan kami akan berangkat, SEKARANG JUGA.
Astria meminta supirnya mengantar aku dan dia—juga Chintya yang ingin ikut—untuk ke bandara di Kalimantan Timur ini. Well, ini masih jam 11 siang, dan kami mungkin akan sampai di Jakarta agak sorean. Aku nggak sabar ketemu Kevin, juga Joe. Ini artinya, sebentar lagi kami pulang.
***
Aku sedang dalam perjalanan ke bandara sekarang, bersama Zessa dan ayahnya. Sekitar 2 jam-an lagi atau mungkin kurang aku bisa bertemu Kevin, dan Nick!
“Kau pasti sangat tertarik ya, bisa bertemu Kevin dan Nick lagi,” kata Zessa. Aku bingung, itu pertanyaan atau bukan.
“Tentu saja, “ aku menjawab, ceria. Tapi seketika aku berpikir, “Kau nggak senang ya, aku balik ke Amerika lagi nanti?”
Zessa terdiam, wajahnya menunduk. Tapi kemudian dia menjawab, “Enggak kok, rumahmu kan di Amerika, ngapain aku nahan-nahan kamu biar nggak pergi?” Dia tersenyum—tapi aku tahu dia sedih, “Makasih udah tinggal di tempatku selama dua hari ini.”
Dua hari yang menurutku, lumayan nggak membosankan, karena keluarga Zessa yang ramah—aku nggak percaya ada orang sebanyak itu di dalam rumah, dari nenek, kakek, dan saudara lainnya yang biasanya nggak tinggal serumah.
Aku cukup berat juga ninggalin dua hari yang cukup singkat namun memberiku satu pengalaman—yang singkat juga. Aku, sebagai bule nyasar, jadi tahu kehidupan keluarga normal di Indonesia. Ternyata nggak beda jauh sama Amerika ya, budaya Amerika ternyata menular ke hampir semua negara di dunia.
Sekarang, aku sampai di bandara Hussein Sastranegara. Zessa berpamitan pada ayahnya, mereka berbicara dalam bahasa yang nggak kumengerti, tapi itu juga bukan Bahasa Indonesia.
Zessa memesan tiket ke Jakarta. Aku bertanya, “Ke Jakarta bisa nggak pakai mobil?”
“Bisa sih,” jawabnya. “Cuma lama, 3 jam kalau lancar.”
“Jadi…” aku memutarkan mata. “Kalau naik pesawat memang berapa jam?”
“Nggak sampai sejam,” jawabnya. “Cepat sekali karena nggak ada macet di udara.”
Aku tertawa. Kami harus menunggu setengah jam untuk penerbangan ke Jakarta.
***
Sudah sekitar tiga jam aku menunggu di bandara bersama Dea—Ancita pulang duluan karena katanya dia ada acara bersama temannya. Aku memegangi kertas bekas yang ditulisi tulisan “JOE & NICK, IT’S KEVIN”
So silly. Dan sekarang aku melihat Joe muncul, bersama seorang cewek yang mengantarnya. Well, now’s the time. Aku teriak, “JOEE!!!”
Joe menoleh, dia berjalan ke arahku. Cewek yang mengantarnya juga. Aku dan Joe berpelukan, brothers’ hug! Dea dan temannya mengobrol dalam Bahasa Indonesia.
“Sekarang, tinggal Nick,” kata Dea.
Semuanya benar-benar serba mendadak dan nggak terencana. Oh iya, AKU BELUM CHECK OUT HOTEL.
Setelah pamit dulu sama Joe, Demi, dan temannya yang namanya Zessa, aku pergi dulu mau check out.
***
Aku sampai di bandara Soekarno-Hatta. Dan aku melihat Joe memegang karton bertuliskan, “JOE & NICK IT’S KEVIN”
Aku mengajak Astria berjalan menemui Joe dan dua orang cewek—yang sudah pasti menemukan Joe dan Kevin. Tapi tunggu dulu, kenapa Kevin nggak ada ya?
“Hai Joe,” aku memeluk Joe. Kangen sekali aku padanya, padahal baru dua hari nggak ketemu.
“Hei, Nick. Apa kabarmu dua hari ini?” tanyanya.
“Tentu saja baik, keluarganya Astria menerimaku di rumah mereka dengan baik,” jawabku, menoleh kepada Astria sebentar. “Kau sendiri gimana?”
“Tentu saja aku baik,” Joe mengeluarkan senyum khasnya. “Keluarganya Zessa juga baik. Dan aku mendapatkan makanan yang enak, aku harus minta Mama membuatkannya nanti.”
“Haha, jadi ceritanya kau beralih dari pancake, Joe?” aku menggodanya, “Hahaha”
Kami berlima tertawa bersama.
“Ngomong-ngomong, Kevin mana? Kok nggak ada?” tanyaku.
“Kevin lagi check out hotel dulu, bentar lagi dia ke sini,” jawab Joe.
“Oh,” aku merespon. “Eh, kenapa kau memegang kertas yang tulisannya ‘JOE & NICK IT’S KEVIN’?”
Joe melihat kertas itu, “Ini bekas Kevin tadi. Tadi kan Kevin ada di sini.”
Aku mengangguk.
Beberapa menit kemudian, sebuah suara memanggil aku dan Joe. Aku mengenali suara cempreng khas yang dimiliki oleh… KEVIN, dia datang.
***
Kevin kembali setelah check out dari hotel tempatnya menginap selama 2 hari ini, dia membawa koper kecilnya. Aku, Kevin, dan Nick berpelukan. Sementara tiga cewek yang menjadi ‘penyelamat’ kami mengobrol terpisah menggunakan Bahasa Indonesia.
Setelah aku, Kevin dan Nick mengobrol yang ‘khas saudara’, aku menoleh pada tiga cewek yang ‘menyelamatkan’ kami dari kesasar, “Kalian nggak apa-apa kami tinggal hari ini juga?”
Zessa menoleh kepada Astria, dank e Dea. Mereka berdiskusi sebentar, lalu Dea—yang jadi ‘juru bicara’ bilang, “Nggak apa-apa kok, hak kalian tuh.”
Aku, Kevin, dan Nick tersenyum kepada mereka.
Kevin memesan tiket ke Amerika sekarang. Nggak ada penerbangan untuk hari ini, jadi kami harus menginap lagi semalam di Indonesia untuk penerbangan besok.
Kami menginap di hotel yang dekat saja, di Mercure Ancol. Sementara Dea menginap di rumahnya sendiri, Astria dan Zessa menginap bersama kami—tentunya beda kamar, ya—di hotel yang sama.
Dua hari yang nggak terlupakan. Pengalaman yang sangat unik. Kesasar di negeri orang hanya karena salah satu dari kami berniat kabur untuk menenangkan diri.
***
Hari ini aku, Joe, dan Nick akan terbang pulang ke Amerika. Dua malam berada di Indonesia menyenangkan ternyata, dianggap bule nyasar oleh penduduk lokal, dan itu benar-benar unik. Aku bertemu dengan Dea dan Ancita yang baik menemaniku bertemu dengan Joe dan Nick—meskipun saat di bandara Ancita nggak ada. Aku juga bertemu Zessa yang dengan baik menerima Joe menginap di rumahnya selama semalam di Bandung. Oh, nggak lupa juga Astria, yang rela rumahnya jadi tempat nginap Nick di Berau kemarin.
Hari ini, aku, Joe, dan Nick harus berpisah dengan Dea, Ancita, Zessa, dan Astria. Sesaat sebelum penerbangan dimulai, kami berpamitan satu sama lain. Zessa dan Astria yang rumahnya bukan di Jakarta juga akan pulang ke rumah mereka masing-masing. Dea dan Ancita datang beberapa menit sebelum aku, Joe, dan Nick masuk ke pesawat.
Betul-betul menyenangkan. Sebagai balas budi, kami memberi Dea, Ancita, Zessa, dan Astria kesempatan nonton konser kami gratis dan juga backstage access serta koleksi CD kami. Berlebihan memang, tapi kalau nggak ada mereka, kami mau ngapain di Indonesia? Pasti makin terpuruk karena kesasar.
***TAMAT***
Err nama-namanya mungkin agak asing ya? Ya, mereka adalah temen temen seperjuangan saya di fanclub Jonas Indonesia -_-

1 comments:

Algimar GIGI Firdaus said...

hmmm..
hohohoho...

bgus2...
sungguh membuka jati diri si tokoh utama (eh? ini tokoh utamanya ada 3 ya?)

hmmm...
wokehlah..

Post a Comment

© 2010 by Zessa Fadhilah Ghaisani. Powered by Blogger.